Langsung ke konten utama

Postingan

Hukum Adat di Sulawesi Selatan

Warisan hukum yang tertua di Indonesia adalah hukum adat , maka di Sulawesi Selatan inipun dikenal satu sistem adat yang disebut sistem pangngaderreng atau pangngadakkang . Sistem ini mengatur mereka hampir di seluruh aspek kehidupan. Mulai dari  adat-istiadat, politik, agama, sosial dan hukum. Sistem pangngaderreng ( pangngadakkang ) ini mengakar dalam hati tiap orang karena terlahir dari proses budaya yang panjang. Olehnya dalam penerapannya masyarakat menjalankannya karena kesadaran yang hadir dalam diri mereka, bukan karena suatu kewajiban atau paksaan. Orang Bugis-Makassar menaati aturan-aturan ini dan yang melanggarnya akan mendapat hukuman. Hukuman yang diberikanpun berbagai macam, ada yang mendapatkan semacam hukuman fisik dan moral sesuai dengan tingkat pelanggaran mereka terhadap pangngaderreng. Ketaatan mereka terhadap panggaderreng dilandaskan pada siri na passé yang mereka pegang kokoh. Siri ini merupakan suatu perasaan malu yang sangat besar, yang mendorong...

Sinjai, Kota Panrita Kitta

Sinjai Bersatu, bersih,elok,rapi,sehat,aman,tekun dan unggul. Demikian visi dari sebuah daerah dengan luas wilayah ± 800 km2 yang terlingkup dalam Provinsi Sulawesi Selatan. Terletak di pantai Timur bagian Selatan Kota Makassar. Dahulu menjadi lingkar pusat pertemuan dua kekuatan antara kerajaan Gowa dan Bone. Letaknya yang strategis membuat daerah ini memiliki potensi agraris dan maritim. Bagian Selatan dan Barat merupakan daerah dengan suhu udara yang dingin, karena letaknya berada diketinggian dekat gunung, sedangkan daerah utara yang berbatasan dengan laut, memiliki potensi kekayaan ikan yang besar dengan cuaca yang cukup panas. Sinjai memiliki dua jalur perhubungan yakni darat dan laut.   Jalur darat bisa ditempuh dengan tiga cara yakni melalui jalur selatan melewati Bulukumba, jalur utara melewati Bone, dan Barat atau Tengah ditempuh dari Gowa–Malino menyisir kota Manipi. Untuk mencapai kota Sinjai dari Makassar, melalui jalur darat bisa ditempuh dalam waktu 4-5 jam. Semen...

Jangan karena perempuan,budaya disalahkan.

Mereka adalah orang-orang cerdas, pintar, yang datang kepada kami untuk mengajari kami tentang peradaban yang mulia. Mereka datang dan menganggap kami bodoh, dan tidak berbudaya, karena pakaian kami yang hanya menutupi kemaluan dan bagian yang menonjol di tubuh kami. Mereka datang, karena melihat kami yang baru 15 tahun menggendong seorang bayi yang masih berbau ketuban di kebun. Mereka datang mengajari kami tentang kesehatan reproduksi, karena melihat kami menggali lobang di hutan, untuk melahirkan anak sendiri tanpa bantuan bidan, hanya berbekal sebilah bambu. Iya mereka datang karena mereka menganggap kami punya kebudayaan yang salah, karena setiap lelaki yang bukan suami kami datang menolong dan melihat kemaluan kami akan didenda oleh ketua adat. Mereka datang, saat kami berjuang di antara nafas terakhir kami. Iya mereka datang, karena ingin melindungi kami yang katanya menjadi korban pernikahan anak. Inilah yang terjadi pada kami, dimana sekolah-sekolah tak ada di sekitar kam...

Sejarah Minyak Gosok Cap Tawon

Hei ini TawonKu,,,kamu?? Hmm,,waktu kuliah S1 dulu aku punya seorang teman laki-laki yang sangat suka membawa minyak gosok cap tawon. Kemana-mana ia selalu membawa minyak ini di tasnya maupun menentengnya pada saat diskusi, rapat dengan teman-teman di HMJ ataupun dalam perjalanan study tour. Olehnya itu, teman-teman menjulukinya “Asri minyak gosok”. Bayangin aja man, minyak gosok ini udah kayak parfum buat dia!!. Namun sayangnya, setelah kisah kasihnya kandas dengan salah satu junior di kampus. Ia tidak lagi membawa minyak ini kemana-mana, mungkin karena minyak gosok cap tawon ini tidak berkhasiat mengobati sakit hatinya, Hehehe…… Okeyy, cukup ya untuk kisah Asri dan Tawonnya. Sekarang aku ingin mengantar teman-teman ke masa lalu. Nah,dahulu dan sekarang Nusantara ini sangat kaya akan sumber daya alam terutama rempah-rempahnya. Tidak asing lagi jika di Indonesia ditemukan banyak macam-macam minyak gosok yang mewarnai pasar industri. Mulai dari minyak kayu putih,minyak telon,...

Bedanya Teo dan Positif

"Tahap pemikiran manusia pointer refleksi dari Mata Kuliah Teori Perubahan Sosial" Menurut Comte, yang membedakan manusia dengan binatang adalah perkembangan inteligensi manusia yang lebih tinggi. Comte mengajukan hukum tentang 3 tingkatan inteligensi manusia, yaitu pemikiran yang bersifat teologis (Agama), metafisik, dan positive. 1.     Tahap Teologis Tahap tingkatan pemikiran yang bersifat theological atau fictious dibagi ke dalam tiga bagian yaitu: a.       Fethism , adalah untuk menggambarkan tingkatan pemikiran yang menganggap bahwa semua gejala yang terjadi dan bergerak berada dibawah pengaruh dari suatu kekuatan supernatural atau suatu kekuatan ghaib. Dalam pemikiran ini, manusia menginterpretasikan segala hal sebagai karya (hasil tindakan) dari supernatural being. Oleh para ahli bidang agama dianggap sebagai tahap perkembangan agama pada tingkatan yang animisme. Tetapi evolusi pemikiran manusia berlangsung terus. Melalui suatu prose...

Maka Sejarah berkata tentang "Sipakatau,Sipakalebbi,kita bersaudara"

""Selayang pandang dari suatu negeri bernama Makassar,,, Hubungan antara Kerajaan Gowa dengan Kerajaan Bima A. Penaklukan Kerajaan Bima terhadap Kerajaan Gowa Kerajaan Bima dikuasai kerajaan Gowa sejak tahun 1617.Pada tahun 625 Sultan Alauddin dengan ekspedisi singgah di Bima yang memberontak,untuk menaklukkan Sumbawa, Dompu, dan Kentalu atau Tambora.Atas perimbangan situasi yang makin memanas di kawasan selat Makassar,status kerajaan Bima sebagai daerah pengawasan Kerajaan Gowa berubah menjadi dua kerajaan yang sederajat dan membentuk suatu persekutuan untuk menghadapi Kompeni.Perubahan semakin lancar melalui diplomasi perkawinan yakni Sultan Abdul Khair Sirajuddin kawin dengan adik Sultan Hasanuddin. Ketika tahun 1646 terjadi perselisihan antara Kerajaan Gowa dengan Kerajaan Bone tentang masalah perbudakan tidak dapat dielesaikan melalui jalan damai sehingga memicu terjadinya perang Bone.Raja Bone La Maddaremmeng sangat keras menjalankan syariat islam,terutama masala...

Teori-teori kebudayaan

Teori-teori kebudayaan di Indonesia 1. Teori-teori kebudayaan di Indonesia Teori evolusi kebudayaan, terutama teori evolusi keluarga dari JJ. Bechofen, juga diterapkan terhadap aneka warna kebudayaan Indonesia oleh ahli Antropologi Belanda G.A Wilken (1847- 1891). Karangan-karangannya yang pertama sudah terbit sewaktu ia menjabat sebagai pegawai pangreh praja, yaitu mengenai sewa tanah dan mengenai adat pemberian nama di Minahasa (Wiklken 1873-1875), karangan etnoigrafi singkat dari pulau Baru(1875-a), tepi juga karangan-karangan teori tentang evolusi perkawinan dan keluarga berjudul Over de primitive Vormen van het huwelijk en de Oosprong van het Gezin (1880-1881), dalam karangannya yang terakhir ia menerangkan tingkat-tingkat evolusi bechofen mengenai promiskuitas, matriathhat, patriarkhat, dan keluarga parental yang terurai di atas, dengan banyak bahan contoh yang di ambil terutama dari Indonesia. Karangannya sesudah itu pada umumnya bersifat teori dan berpusat pada bahan-bahan etno...