Langsung ke konten utama

Postingan

Refleksi Hari Jadi Kota Makassar "Ruang yang terlepas"

Terpending  ANDI LILI EVITA · 18 MARET 2016 Baru-baru ini, seorang teman memposting ulang laman majalah historia dengan judul “Benarkah usia kota Makassar 408 tahun?” di dinding facebooknya. Artikel itu ditulis oleh Eko Rusdianto pada 9 November 2015 lalu. Saya menangkap ada empat misi Eko dalam artikel yang dia sampaikan, Pertama sepertinya artikel Eko ini sedang berusaha melempar bola panas kepada masyarakat kota Makassar, untuk mempertanyakan ulang sejarah lahirnya kota Makassar. Tapi rupanya sebagian besar masyarakatnya, tidak terlalu peduli dengan sejarah, yang mereka senangi hanyalah nongki dan bermimpi tentang masa depan di pantai Losari. Kedua, sebenarnya Eko ingin menyinggung para sejarawan mengenai sumbangsih keilmuan mereka. Seringkali banyak orang yang belajar sejarah, lalu kemudian gagal mengaplikasikannya. Padahal kalau boleh dibilang, sejarawan telah belajar dari masa lalu, dan seharusnya dari gejala yang ia peroleh, ia bisa mendesain dan meramalkan masa depan....
Postingan terbaru

Gerah di 2023

Malam malam yang gerah, Segerah politik hari ini, Petaka yang disebabkan oleh keabaian, dan pengetahuan yang dangkal. Mengomeli diri sendiri, karena kedunguan yang dipelihara, Ketakutan adalah awal dari musibah Dikira diri ini hebat,bisa bersembunyi dari rasa gerah. Tapi ternyata, kita sudah lama menjadi objek para hunter. Kita sudah lama menjadi dingin dengan sesuatu hal. Sekarang,rasanya sulit menjadi dingin dingin saja. Karena senyatanya kita semua sedang gerah dan geram. Gerah dengan cuaca, Geram dengan politik yang membuat gerah, Mau dibawa kemana bahtera ini tah? Pelan pelan saja Pak Sopir.... Bumi ini dipijak, ah gerahnya

Georg G. Iggers, Historiography in the Twentieth Century: From Scientific Objectivity to the Postmodern Challenge

  Review Chapter 1, Classical Historicism as a Model for Historical Scholarship, hlm 23-30.  Buku: Georg G. Iggers, Historiography in the Twentieth Century: From Scientific Objectivity to the Postmodern Challenge (Wesleyan University Press, 1997). 1. Ringkasan Isi Bab Pada awal abad ke-19, dunia Barat menyaksikan transformasi besar dalam cara sejarah diteliti, ditulis, dan diajarkan. Iggers menjelaskan bahwa sebelum periode ini, penulisan sejarah didominasi oleh dua tradisi: yang bercorak antiquarian-ilmiah [1] dan yang bercorak sastra. Keduanya kemudian dipadukan dalam disiplin sejarah modern yang berpusat di universitas-universitas Jerman, terutama Universitas Berlin yang lahir dari reformasi Wilhelm von Humboldt. Tokoh sentral dalam bab ini adalah Leopold von Ranke , yang mengusung sejarah sebagai disiplin ilmiah berbasis penelitian arsip dan kritik filologis. Ranke menekankan objektivitas sejarah dengan semboyan terkenalnya, “menunjukkan bagaimana sesuatu bena...

Sejarah dan Politik: Dua Proses yang Tak Pernah Sepenuhnya Terpisah

Dalam diskursus akademik, sejarah dan politik kerap dipandang sebagai dua ranah yang berbeda. Sejarah diposisikan sebagai rekaman objektif masa lalu, sementara politik dilihat sebagai arena kekuasaan yang sarat kepentingan. Namun, dalam praktiknya, batas antara keduanya sering kali kabur. Sejarah tidak hanya mencatat apa yang terjadi, melainkan juga dipilih, dikonstruksi, dan dikisahkan berdasarkan kepentingan tertentu yang tidak jarang merupakan kepentingan politik. Michel Foucault dalam karyanya Power/Knowledge (1980) menyatakan bahwa pengetahuan selalu terkait dengan relasi kuasa. Dalam konteks ini, sejarah sebagai bentuk pengetahuan tidak dapat dilepaskan dari kepentingan-kepentingan politik yang membentuknya. Narasi sejarah yang dominan sering kali mencerminkan suara pihak yang berkuasa, sementara narasi alternatif yang tidak sejalan dengan kepentingan politik akan diredam, diabaikan, atau bahkan dihapus dari ingatan kolektif. Hal ini ditegaskan pula oleh Hayden White (1973), y...

Chapter Review K.N Chaudhuri, Trade and Civilisation in The Indian Ocean : An Economic History from The Rise of Islam to 1750, (Cambridge : Cambridge University Press, 1989)

  Bab 1 ini dari karya K.N. Chauduri ini, penelitiannya ini memfokuskan pada kebudayaan dan peran perdagangan ekonomi dalam jangka waktu yang panjang ketika teknologi belum berhasil   sepenuhnya mengubah struktur sosial dan keadaan   di Asia dan Eropa. Ia membahas beberapa hal kronologis mendasar di Samudera Hindia selama satu milenium tahun, kesatuan dan keragaman Samudera Hindia, hubungan antara waktu yang acak, peristiwa dengan stasioner waktu dan terutama peran perdagangan jarak jauh dalam proses integrasi ekonomi, budaya dan sosial. Secara garis besar setidaknya ada sebelas poin penting yang diuraikan olehnya dalam bab 1 ini. Antara lain uraian singkat tentang keadaan atau situasi pada periode tersebut; jalur-jalur perdagangan; negara, hukum dan lainnya; kekuatan laut; model jalur perdagangan jarak jauh; fungsi dan dampak dari perdagangan sebelum memasuki abad modern; peran budaya dalam perdagangan, kesatuan dan perbedaan yang ada di laut Hindia, identitas budaya; ke...

Mata Air di Pulau Lanjukang, Pesona Pulau Terluar Makassar

Mengunjungi Pulau Lanjukang adalah salah satu pengalaman yang sangat berharga bagi kami. Berangkat dari Penyeberangan Tradisional Paotere, dengan kapal Jolloro ke Pulau Lanjukang menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam. Setiba disana, perjalanan panjang itu membuat kami terkesima dengan suguhan keindahan Pulau dan Alam Lanjukang yang sangat indah. Pulau ini, dilingkupi lautan berwarna zamrud, biru indah berkilau. Bertahta pasir putih, dengan hiasan pohon pinus, ketapang, kelapa hijau, dan pisang. Lanjukang, menjadi pulau yang selalu dirindukan untuk pulang. Ada yang membuat saya takut, jika keindahan ini dirusak oleh kurangnya pemahaman wisatawan maupun masyarakat dalam mendaur ulang atau memusnahkan sampah plastik. Sampah yang dibawa oleh wisatawan atau dagangan warga setempat untuk ditukar dengan beras atau air bersih. Keindahan Pulau Lanjukang ini yang saya sebut mata air kehidupan mereka. Karena keindahan ini, pulau ini menjadi tempat beristirahat bagi para nelayan atau pelancong. Te...

Indonesia Energy of The World

Merangkai peristiwa di awal tahun mengenai konflik di Natuna, Indonesia memang perlu mengantisipasi berbagia kepentingan yang ada di Pasifik. Posisi Indonesia yang sangat strategis,membuat Indonesia tidak bisa lari dari berbagi imbas konflik politik,ekonomi dan berbagai permasalahan global yang terjadi di dunia. Tetapi posisi Indonesia yang strategis tersebut,tidak bisa juga dijadikan sebagai ancaman melainkan bergaining posisition bagi Negara untuk tegas terhadap penegakan kedaulatan. Sebagai penegasan,izinkan saya meminjam bahasa Jawaharlah Nehru bahwa saat ini kita tidak sedang ingin memintal tetapi kita sedang ingin perang. Tetapi, Era Manusia yang berkembang, sekarang ini tidak cocok lagi, menanggapi perang sebagai konflik antara manusia dan manusia,atau antara moncong sejata,,Kita lagi-lagi telah memasuki era intelegensia. Masa duet antara intelensia manusia dan dengan intelegensia buatan,bahasa kerennya kita memasuki era perang bermata dua. Mengutip berita onli...