Review Chapter 1, Classical Historicism as a Model for Historical Scholarship, hlm 23-30. Buku: Georg G. Iggers, Historiography in the Twentieth Century: From Scientific Objectivity to the Postmodern Challenge (Wesleyan University Press, 1997). 1. Ringkasan Isi Bab Pada awal abad ke-19, dunia Barat menyaksikan transformasi besar dalam cara sejarah diteliti, ditulis, dan diajarkan. Iggers menjelaskan bahwa sebelum periode ini, penulisan sejarah didominasi oleh dua tradisi: yang bercorak antiquarian-ilmiah [1] dan yang bercorak sastra. Keduanya kemudian dipadukan dalam disiplin sejarah modern yang berpusat di universitas-universitas Jerman, terutama Universitas Berlin yang lahir dari reformasi Wilhelm von Humboldt. Tokoh sentral dalam bab ini adalah Leopold von Ranke , yang mengusung sejarah sebagai disiplin ilmiah berbasis penelitian arsip dan kritik filologis. Ranke menekankan objektivitas sejarah dengan semboyan terkenalnya, “menunjukkan bagaimana sesuatu bena...
Dalam diskursus akademik, sejarah dan politik kerap dipandang sebagai dua ranah yang berbeda. Sejarah diposisikan sebagai rekaman objektif masa lalu, sementara politik dilihat sebagai arena kekuasaan yang sarat kepentingan. Namun, dalam praktiknya, batas antara keduanya sering kali kabur. Sejarah tidak hanya mencatat apa yang terjadi, melainkan juga dipilih, dikonstruksi, dan dikisahkan berdasarkan kepentingan tertentu yang tidak jarang merupakan kepentingan politik. Michel Foucault dalam karyanya Power/Knowledge (1980) menyatakan bahwa pengetahuan selalu terkait dengan relasi kuasa. Dalam konteks ini, sejarah sebagai bentuk pengetahuan tidak dapat dilepaskan dari kepentingan-kepentingan politik yang membentuknya. Narasi sejarah yang dominan sering kali mencerminkan suara pihak yang berkuasa, sementara narasi alternatif yang tidak sejalan dengan kepentingan politik akan diredam, diabaikan, atau bahkan dihapus dari ingatan kolektif. Hal ini ditegaskan pula oleh Hayden White (1973), y...