Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Refleksi Hari Jadi Kota Makassar "Ruang yang terlepas"

Terpending  ANDI LILI EVITA · 18 MARET 2016 Baru-baru ini, seorang teman memposting ulang laman majalah historia dengan judul “Benarkah usia kota Makassar 408 tahun?” di dinding facebooknya. Artikel itu ditulis oleh Eko Rusdianto pada 9 November 2015 lalu. Saya menangkap ada empat misi Eko dalam artikel yang dia sampaikan, Pertama sepertinya artikel Eko ini sedang berusaha melempar bola panas kepada masyarakat kota Makassar, untuk mempertanyakan ulang sejarah lahirnya kota Makassar. Tapi rupanya sebagian besar masyarakatnya, tidak terlalu peduli dengan sejarah, yang mereka senangi hanyalah nongki dan bermimpi tentang masa depan di pantai Losari. Kedua, sebenarnya Eko ingin menyinggung para sejarawan mengenai sumbangsih keilmuan mereka. Seringkali banyak orang yang belajar sejarah, lalu kemudian gagal mengaplikasikannya. Padahal kalau boleh dibilang, sejarawan telah belajar dari masa lalu, dan seharusnya dari gejala yang ia peroleh, ia bisa mendesain dan meramalkan masa depan....

Gerah di 2023

Malam malam yang gerah, Segerah politik hari ini, Petaka yang disebabkan oleh keabaian, dan pengetahuan yang dangkal. Mengomeli diri sendiri, karena kedunguan yang dipelihara, Ketakutan adalah awal dari musibah Dikira diri ini hebat,bisa bersembunyi dari rasa gerah. Tapi ternyata, kita sudah lama menjadi objek para hunter. Kita sudah lama menjadi dingin dengan sesuatu hal. Sekarang,rasanya sulit menjadi dingin dingin saja. Karena senyatanya kita semua sedang gerah dan geram. Gerah dengan cuaca, Geram dengan politik yang membuat gerah, Mau dibawa kemana bahtera ini tah? Pelan pelan saja Pak Sopir.... Bumi ini dipijak, ah gerahnya

Georg G. Iggers, Historiography in the Twentieth Century: From Scientific Objectivity to the Postmodern Challenge

  Review Chapter 1, Classical Historicism as a Model for Historical Scholarship, hlm 23-30.  Buku: Georg G. Iggers, Historiography in the Twentieth Century: From Scientific Objectivity to the Postmodern Challenge (Wesleyan University Press, 1997). 1. Ringkasan Isi Bab Pada awal abad ke-19, dunia Barat menyaksikan transformasi besar dalam cara sejarah diteliti, ditulis, dan diajarkan. Iggers menjelaskan bahwa sebelum periode ini, penulisan sejarah didominasi oleh dua tradisi: yang bercorak antiquarian-ilmiah [1] dan yang bercorak sastra. Keduanya kemudian dipadukan dalam disiplin sejarah modern yang berpusat di universitas-universitas Jerman, terutama Universitas Berlin yang lahir dari reformasi Wilhelm von Humboldt. Tokoh sentral dalam bab ini adalah Leopold von Ranke , yang mengusung sejarah sebagai disiplin ilmiah berbasis penelitian arsip dan kritik filologis. Ranke menekankan objektivitas sejarah dengan semboyan terkenalnya, “menunjukkan bagaimana sesuatu bena...